Selama dua tahun terakhir, Kinara mulai aktif terlibat dalam ekosistem entrepreneurship Indonesia. Awalnya kami sebenarnya hanya ingin fokus kepada investasi untuk pengusaha rintisan/startup (seed funding atau Stage A). Banyaknya investor yang mulai melirik startup Indonesia adalah fenomena yang baru untuk ekosistem wirausaha Indonesia. Ini terjadi sejak kira-kira 3 tahun lalu. Memang kebanyakan adalah investor di bidang IT. Kalau ada pembaca setia Dailysocial, pasti sering mendengar info ada startup yang mendapat investasi dan sebagainya. Masih jarang memang yang melirik sektor non-teknologi seperti Kinara.

Sepanjang perjalanan, kami menemukan bahwa ternyata dana investasi bukanlah hal yang paling utama dan terpenting. Pada akhirnya, Kinara banyak terlibat dalam kegiatan yang bisa dikategorikan ‘capacity building‘. Membangun kapasitas para pengusaha baru ini. Kami bukan sok tahu karena kami juga masih sangat baru di bidang kewirausahaan. Hanya kebetulan dalam karir kami sebelumnya di bidang perbankan, kami sering bertemu dengan para pengusaha dari level mikro sampai menengah, dan melihat sendiri beberapa dari mereka yang berhasil dan yang gagal. Yang kami lakukan kebanyakan adalah berbagi pengalaman yang kami rasakan sendiri ataupun yang kami lihat di usaha lain.

Membangun kapasitas menjadi sangat penting karena kami merasa banyak pengusaha rintisan (startup) yang ternyata belum sepenuhnya siap menerima investasi untuk pengembangan usahanya. Konsep investasi yang kami usung sejak awalnya memang sebagai partner, bukan sekedar sebagai investor. Sebagai partner, tentu kami akan terjun dan membantu apa pun yang bisa kami lakukan untuk mengembangkan usaha partner kami, bukan sekedar menjadi investor pasif dan menunggu bagi hasil saja.

Tetapi walaupun kami sudah siap ‘terjun’, kenyataannya kami harus ‘menyelam’ lebih dalam lagi. Bahkan sebelum kami memutuskan untuk berinvestasi ke sebuah usaha, seringkali kami sudah melakukan pendampingan usaha tersebut. Analoginya adalah, kami harus memperkuat pondasi bangunan sebelum membangun lebih tinggi lagi. Hal ini sangat berbeda dari keadaan di negara di mana ekosistem kewirausahaannya sudah jauh lebih maju. Investor seperti kami (yang sering disebut sebagai angel investor – jika pribadi – atau Venture Capital – sebuah perusahaan investasi) tidak akan langsung bekerja sama dengan para pengusaha sebelum terjadi deal. Jarang sekali hal ini terjadi, kecuali oleh para individu yang mengawali keterlibatan sebagai mentor atau advisor lalu kemudian berinvestasi ke usaha tersebut.

Hal ini pulalah yang membuat kami memutuskan untuk melakukan beberapa kegiatan workshop dan training, walaupun bukan itu tujuan kami sebenarnya. Kami bukan perusahaan training. Training adalah kegiatan kami untuk memperkuat pondasi tadi. Supaya para pengusaha lebih ‘siap’ untuk melangkah ke level selanjutnya.

Ternyata bukan hanya Kinara yang merasakan hal yang sama: bahwa ekosistem kewirausahaan Indonesia belum sepenuhnya siap, terutama di level pengusaha yang sangat baru (seed stage). Sebuah perusahaan investasi dari luar negeri (bidang IT) yang sudah mulai berinvestasi ke Indonesia sejak 4 tahun lalu, baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka menghentikan program akselerator mereka di Indonesia. Program inkubator dan akselerator adalah istilah untuk program jangka pendek yang ditujukan untuk ‘menetaskan’ sebuah usaha yang masih sangat baru (akselerator) atau bahkan belum dimulai (inkubator). Ibaratnya, membawa sebuah perusahaan dari nol ke level 1 dan level 2. Alasan utama yang dikutip oleh media adalah bahwa perusahaan ini merasa bahwa ekosistem kewirausahaan Indonesia belum cukup kuat. Dan sudah terlalu banyak program serupa yang diadakan, sementara perusahaan yang layak untuk ikut masih terlalu sedikit.

Walaupun banyak yang berkomentar menyayangkan keputusan tersebut, kami bisa memahami situasi yang mereka hadapi. Karena kami pun merasakan hal yang sama. Bedanya adalah mereka perusahaan internasional yang memiliki portfolio investasi di beberapa negara, sehingga mereka bisa memutuskan untuk fokus ke negara lain. Kami saat ini hanya berinvestasi di Indonesia, sehingga satu-satunya pilihan kami adalah berkontribusi untuk memperkuat ekosistem tersebut.

Entah sudah berapa kali kata ‘ekosistem’ disebut di tulisan ini. Sebenarnya ekosistem macam apakah yang dicari oleh Kinara (yang mungkin juga bisa mewakili pihak investor lain)?

Silahkan melanjutkan ke bagian berikut untuk pembahasan lebih detil