Di bagian kedua tulisan ini kami banyak membahas mengenai beberapa hal yang kami rasakan lemah pada ekosistem kewirausahaan Indonesia: pengusaha yang sekedar ingin cepat kaya, ikut-ikutan dan enggan berkolaborasi

3 hal itu bisa dirangkum menjadi satu hal besar: budaya. Budaya kewirausahaan Indonesia masih di tahap awal, sehingga masih banyak yang berbisnis sekedar ingin kaya, ikut-ikutan dan terkadang spirit kolaborasinya masih kurang. Agak aneh sebenarnya untuk negara yang katanya memiliki budaya gotong-royong. Budaya kolaborasi dalam bisnis ini juga sangat terasa kekurangannya. Di negara manapun, kompetisi dalam bisnis adalah hal yang biasa. Bahkan di banyak negara, ada Undang Undang anti-monopoli yang memastikan adanya kompetisi sehat demi kebaikan masyarakat luas. Tetapi yang dicari adalah sistem kompetisi yang sehat, tidak sekedar saling membunuh. Di beberapa negara, aura kompetisi ini biasanya sangat terasa di antara perusahaan besar, tetapi sangat berbeda di level usaha yang masih baru.

Salah satu contoh spirit kolaborasi yang mungkin belum biasa dilakukan di Indonesia adalah adanya sistem mentoring atau advisor. Hal ini baru saya sadari saat bertemu dengan seorang Profesor yang melakukan studi tentang Entrepreneurship dan beliau bertanya, “apakah ada yang disebut sebagai ‘Board Of Advisors’ di usaha-usaha rintisan di Indonesia?” Saya sendiri baru tersadar, saya menganggap beberapa orang sebagai mentor saya, dan mereka biasanya ahli di bidangnya masing-masing. Tetapi saya juga tidak secara resmi mengangkat mereka sebagai Board Of Advisors. Kebetulan saja mereka cukup baik hati dan mau meluangkan waktunya jika diperlukan untuk saya berdiskusi dan memperoleh input tentang masalah yang saya hadapi. Dan baru saya sadari juga bahwa mungkin hal yang saya miliki ini tidak biasa. Begitu sering kami bertemu para pengusaha baru yang merasa ‘kesepian’, karena berjuang sendirian tanpa ‘support system’. Minimum hal yang diperlukan adalah adanya teman atau orang yang bisa menjadi tempat untuk bertukar pikiran. Kalaupun belum menemukan orang yang cocok dianggap sebagai mentor atau penasihat, setidaknya adanya komunitas. Akan lebih baik lagi jika mereka yang sudah lebih berpengalaman mau meluangkan sedikit waktunya untuk membimbing para juniornya. Budaya kolaborasi seperti ini masih kami rasakan sangat kurang. Itulah kenapa saya sangat mengapresiasi adanya teman-teman yang menginisiasi dan menggerakkan komunitas Tangan Di Atas. Salah satu komunitas pengusaha yang mulai menciptakan budaya berbagi dan saling mendukung tanpa pamrih.

Budaya ini ibarat air dalam ekosistem kolam ikan koi. Tanpa air yang memiliki Ph cocok, ikan koi tidak akan tumbuh besar. Perlu waktu agak lama untuk mengubah budaya, dan harus bisa mulai sekarang, setidaknya generasi setelah saya bisa memiliki pola pikir dan budaya kewirausahaan dan kolaborasi yang lebih mendukung.

Hal-hal berikut yang juga seharusnya mendukung ekosistem adalah support system bagi para pengusaha rintisan itu sendiri. Berat memang untuk seorang yang baru belajar berbisnis dan harus memikirkan banyak hal pendukung yang bukan menjadi keahliannya. Saya yakin tidak ada pebisnis baru yang sepenuhnya mengerti tentang masalah legal perijinan, akuntansi atau perpajakan. Seorang pebisnis memang harus mempelajari semuanya, tetapi juga dibutuhkan para ahli yang mendukung proses pembelajaran itu. Dengan jaringan yang terbatas, banyak pengusaha baru yang bahkan tidak tahu harus bertanya ke mana tentang sistem keuangan usahanya atau suatu masalah legal. Akhirnya dilakukan seadanya dan cenderung asal-asalan. Banyak ketidakjelasan yang ditabrak. Sementara hal-hal ini sangat krusial untuk pengelolaan bisnis. Di sisi lain, memang ada pihak-pihak yang memberikan jasa konsultasi legal, akuntansi atau perpajakan tetapi biayanya sering dianggap terlalu tinggi untuk sebuah usaha baru. Posisi ayam dan telur ini menjadi tantangan tersendiri untuk kami dan butuh bantuan dari teman-teman yang lebih ahli untuk memecahkannya.

Satu faktor lagi yang kami rasa sangat mengganggu ekosistem kewirausahaan Indonesia adalah budaya korupsi. Entah berapa sering kami dengar keluhan para pengusaha baru yang kesulitan untuk mengurus perijinan usahanya karena sengaja dipersulit oleh yang berwenang, dan dipaksa untuk mengeluarkan ‘pelicin’. Dan jangan pikir hal ini hanya terjadi di birokrat pemerintahan saja. Banyak sekali perusahaan swasta yang juga bermasalah dengan korupsi di dalamnya. Ada seorang teman yang mengungkapkan kekesalannya, sebagai sebuah usaha kecil yang bermitra dengan sebuah perusahaan besar multinasional, menghadapi praktek korupsi yang dilakukan oleh oknum yang bertanggung jawab untuk Pengadaan (Procurement). Ternyata perusahaan-perusahaan yang sudah lama menjadi mitra sudah terbiasa memberikan sekian persen untuk ‘kickback’ bagi oknum tersebut. Sebagai usaha yang baru dan tidak memberikan persenan, akhirnya teman kami ini dipersulit proses penagihannya. Selama budaya jalan pintas ini masih dianggap ‘biasa’, akan timbul biaya-biaya yang tidak wajar dan tentu mengganggu kemampuan usaha kecil untuk berkembang. Yang akhirnya berkembang adalah mereka yang mendukung praktek korupsi tersebut demi mendapatkan bisnis.

Mungkin masih banyak lagi hal yang belum ideal dalam ekosistem kewirausahaan Indonesia. Tujuan post ini bukan untuk mengeluh. Kami ingin berbagi pendapat kami dari pengalaman selama 2 tahun ini. Saat ini kami sedang berusaha melakukan apa yang bisa kami lakukan untuk memperbaiki ekosistem ini. Tetapi tentunya kami tidak bisa sendirian. Siapapun yang merasa bisa melakukan sesuatu untuk memperbaiki budaya kewirausahaan, sistem support dan mengikis budaya korupsi di negeri ini, semoga Anda terpanggil untuk melakukan sesuatu dan bergabung dalam perjuangan ini.

We’ll be more than happy to collaborate

Dondi Hanantoстроительство домов в чите