Di bagian pertama tulisan ini saya menceritakan banyak latar belakang tentang pendapat kami mengenai ekosistem wirausaha Indonesia yang masih dirasa belum siap. Ternyata bukan hanya kami saja yang berpikir demikian.

Apa yang kami maksud dengan ekosistem kewirausahaan?

Hal pertama adalah mindset atau pola berpikir para entrepreneur. Hal ini berujung kepada purpose atau tujuan mereka memulai usaha. Tentu sebagai sebuah usaha, keuntungan menjadi tujuan yang penting. Tetapi yang kami pelajari dari para pengusaha yang kami anggap sukses, tujuan utama mereka memulai usaha bukan sekedar mencari keuntungan. Mereka punya tujuan yang lebih besar dari sekedar itu. Entrepreneur sejati biasanya lahir untuk memecahkan suatu masalah, bukan sekedar berdagang. Keuntungan finansial menjadi sebuah efek samping positif dari kegiatan itu. Satu hal yang kami pelajari dari para mentor kami yang sudah lebih berpengalaman adalah: always invest in people, not in the business.

Untuk sebuah bisnis baru, para pendirinya adalah aset yang paling penting. Dan para pendiri yang memiliki tujuan lebih dari sekedar mencari uang biasanya adalah mereka yang berhasil mengembangkan bisnisnya. Kepercayaan inilah yang membuat kami juga sangat alergi pada kata ‘kaya’. Kami berjanji, tidak akan pernah mengajarkan trik bisnis untuk sekedar menjadi kaya, dan jika kami berkesempatan menerbitkan buku tentang bisnis, tidak akan bergabung dengan ratusan judul buku di toko yang menggunakan kata ‘kaya’ di sampulnya. We are looking for passionate people, not people who want to get rich quick.

Masalah pola pikir ini jugalah yang membawa kepada masalah kedua: berbisnis karena sekedar ikut-ikutan. Kata-kata ‘entrepreneur’ menjadi sebuah kata yang ‘seksi’ dan banyak pihak ingin ikut dalam tren ini. Akhirnya banyak juga yang berbisnis mengikuti tren karena mengejar keuntungan sesaat. Saat tren ‘rainbow cake’ memuncak tahun lalu, begitu banyak yang ikut-ikutan membuat cake warna-warni ini. Setelah orang mulai bosan, akhirnya hanya tersisa mereka yang memang benar-benar memiliki ‘passion’ di bidang cakery ini. Tren batik sejak 2008 juga melahirkan begitu banyak pedagang batik yang ikut-ikutan berjualan batik, tetapi tujuan utama melestarikan budaya dan pengrajin tradisional belum tentu tercapai. Kenapa? Karena akhirnya yang paling banyak dijual adalah baju dengan motif batik print yang notabene produksi Cina. Untuk mereka para ‘pejuang batik’, tentu hal ini sangat menyedihkan. Tetapi ini menjadi tantangan untuk Kinara, bagaimana mendukung usaha yang benar-benar melestarikan batik asli dan pengrajin tradisional untuk bisa berhasil secara komersil? Hal ini juga yang mendasari keputusan kami untuk bekerjasama dengan salah satu bisnis fashion batik.

Hal berikut yang kami anggap penting adalah budaya kerjasama yang saling melengkapi. Jika ditanya tipe entrepreneur seperti apa yang kami cari, jawabannya adalah kelengkapan skill. Skill pertama yang dicari adalah skill berbisnis (istilahnya ‘hustler’): kegigihan, kemampuan berbicara, meyakinkan orang, dan seorang master networker. Seorang hustler perlu diimbangi oleh seorang mitra yang bertipe teknikal (istilahnya ‘engineer’): memiliki keahlian yang mumpuni di bidang usaha tersebut, bisa dikenal sebagai expert yang sangat mengetahui seluk beluk bisnis tersebut, baik dari segi teknikal ataupun jalur produksi (bahan baku, supplier, mitra produksi, distributor, dll).

Sebuah bisnis yang ‘lengkap’ biasanya memiliki hustler dan engineer dalam tim pendirinya. Tanpa seorang hustler, bisnis tersebut biasanya mengalami kesulitan menjual produk atau jasanya (walaupun berkualitas bagus!), mengembangkan jaringan dan kerjasama dengan pihak lain. Tanpa seorang engineer, sebuah usaha tetap bisa berjalan, dengan merekrut orang yang ahli. Tetapi di awal sebuah bisnis, biasanya ini menimbulkan ketergantungan kepada orang lain (yang bukan pendiri), dan terkadang kreatifitas menjadi terbatas karena sang karyawan engineer belum tentu memiliki hati yang penuh. Istilahnya, tidak ada ‘skin in the game’.

Terlalu sering kami bertemu dengan para ahli di sebuah bidang yang pada akhirnya tidak berhasil menjadikan penemuannya menjadi sebuah bisnis. Dan terkadang mereka malah mencibir orang-orang yang bertipe hustler sebagai ‘terlalu komersil’. Kalau mereka tidak bekerjasama, tentu tidak akan lahir bisnis yang mengubah dunia. Apple menjadi besar karena kolaborasi Steve Jobs & Steve Wozniak. Microsoft menjadi raksasa karena kerjasama Bill Gates dan Paul Allen. Jarang sekali orang seperti Jeff Bezos sang pendiri Amazon yang dikenal sebagai superman, seorang engineer yang juga seorang hustler hebat.

Dilanjutkan ke bagian berikutстроительство калининград